Metode Pembelajaran Dalam Al-Quran

Metode dapat diartikan sebagai cara untuk penyampaian materi pelajaran kepada anak didik Menurut mohammad Athiyah al-absary mendefisikannya sebagai jalan yang diikuti untuk memberi kefahaman kepada murid-murid dalam segala macam hal pelajaran dan mata pelajaran. Profesor Abd al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru-guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik.
Bertolak pada pandangan tersebut diatas, al-Qur’an memiliki berbagai pendekatan yaitu metode dalam pendidikan, yakni dalam menyampaikan materi pendidikan. Metode tersebut antara lain1:
METODE TELADAN
Dalam al-Qur’an kata teladan disamakan pada kata Uswah yang kemdian diberikan sifat dibelakangnya seperti sifat hasanah yang berarti baik. Sehingga dapat terungkapkan menjadi Uswatun Hasanah yang berarti teladan yang baik. Kata uswah dalam al-Qur’an diulang sebanyak enam kali dengan mengambil contoh Rasullullah SAW, Nabi Ibrahim dan kaum yang beriman teguh kepada Allah. Firman Allah SWT dalam surat al-Ahzab :
Sesungguhnya dalam diri Rasullullah itu kamu dapat menemukan teladan yang baik” (Q.S.al-Ahzab:21)
Muhammad Quthb, misalnya mengisyaratkan bahwa di dalam diri Nabi Muhammad, Allah menyusun suatu bentuk sempurna metodologi Islam, suatu bentuk yang hidup dan abadi sepanjang sejarah masih berlangsung2.metode ini dinggap sangat penting karena aspek agama yang trpenting adalah akhlak yang termasuk dalam kawasan aektif yang terwujud dalam tingkah laku(behavioral).
METODE KISAH-KISAH
Di dalam al-Qur’an selain terdapat nama suatu surat, yaitu surat al-Qasash yang berarti cerita-cerita atau kisah-kisah, juga kata kisah tersebut diulang sebanyak 44 kali3. Menurut Quraish Shihab bahwa dalam mengemukakan kisah di al-Qur’an tidak segan-segan untuk menceritakan “kelemahan manusiawi”. Namun, hal tersebut digambarkanya sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menggaris bawahi akibat kelemahan itu, atau dengan melukiskan saat kesadaran dan kemenangannya mengalahkan kelemahan tadi.
Kemudian Quraish Shihab memberikan contoh pada surat al-Qashash ayat 76-814. Disini, setelah dengan bangganya Karun mengakui bahwa kekayaan yang diperolehnya adalah berkat kerja keras dan usahanya sendiri. Sehingga muncul kekaguman orang-orang sekitarnya terhadap kekayaan yang dimilkinya, tiba-tiba gempa menelan Karun dan kekayaanya. Orang-orang yang tadinya kagum menyadari bahwa orang yang durhaka tidak akan pernah memperoleh keberuntungan yang langgeng. Pelajaran yang terkandung dalam kisah tersebut adalah mengingatkan menusia agar jangan lupa bersyukur kepada Allah, jangan lupa diri, takabbur, sombang dan seterusnya, karena itu semua hal yang tidak disukai oleh Allah.
Kisah atau cerita sebagai metode pendidikan ternyata mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari akan adanya sifat alamiah manusia yang menyukai cerita dan menyadari pengaruh besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu tehnik pendidikan. Islam mengunakan berbagai jenis cerita sejarah factual yang menampilkan suatu contoh kehidupan manusia yang dimaksudkan agar kehidupan manusia bisa seperti pelaku yang ditampilkan contoh tersebut(jika kisah itu baik). Cerita drama yang melukiskan fakta yang sebenarnya tetapi bisa diterapkan kapan dan disaat apapun.
METODE NASIHAT
Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah yang kemudian dikenal nasihat. Tetapi pada setiap nasihat yang disampaikannya ini selalu dengan teladan dari I pemberi atau penyampai nasihat itu. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode yakni nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini keteladanan bersifat melengkapi.
Didalam al-Qur’an, kata-kata yang menerangkan tentang nasihat diulang sebnyak 13 kali yang tersebut dalam 13 ayat didalam tujuh surat. Diantara ayat-ayat tersebut berkaitan dengan para Nabi terhadap umatnya. Salah satunya contoh nasihat Nabi Saleh kepada kaumnya, dalam firman Allah:
Maka berpaling dari mereka dan (Nabi Saleh) berkata:”hai kaumku aku telah menyampaikan kepadamu amanat dari Tuhanku, dan aku telah memberimu nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yangmemberi nasihat.”(Q.S. al-‘Araf:79)
Selain itu kita juga bisa temukan dalam surat Lukman. Nasihat-nasihat yang diberikan oleh Lukman al-Hakim kepada anak-anaknya telah dilukiskan dalam al-Qur’an. Adapun isi nasihatnya antara lain agar jangn menyekutukan Allah, tunaikan shalat, menyuruh bebuar baik kepada bapak ibu, bersyukur kepada Allah, kemudian berbuat baik, menjauhi perbuatan jahat dan tidak sombong. Dengan metode ini anak didik akan merasa adanya perhatian seorang guru dengan pemberian nasihat-nasihat.
METODE PEMBIASAAN
Metode lain yang digunakan al-Qur’an dalam memberikan materi pendidikan adalah melalui kebiasaan yang dilakukan secara betahap. Dalam hal ini termasuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang negaif. Kebiasaan ditempatkan oleh manusia sesuatu yang sangat istimewa, ia banyak sekali menghemat kekuatan manusia. Karena sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dan spontan, agar kekuatan ini dapat dipergunakan untuk kegiatan dalm berbagai pekerjaan dan kreaktivitas lainnya.
Setiap kebiasaan yang tidak ada hubungannya dengan asas-asas akidah dan keislaman, telah digunting oleh Islam terlebih dahulu. Karena ia tak ubahnya seperti borok-borok yang ada di badan yang harus dibuang, bila tidak hidup akan beakhir. Begitu juga dengan sifat buruk harus dihapus dalam diri dan dirubah dengan sifat baik. Lalu sifat-sifat baik itu akan menjadi suatu kebiasaan, sehingga jiwa dapat menunaikan kebiasaan itu tanpa terlalu payah dan tidak menemui kesulitan.
Dalam kasus menghilangkan kebiasaan meminum khamar misalnya, al-Qur’an memulai dengan menyatakan bahwa hal itu merupakan kebiasaan orang kafir Quraisy (Q.s.al-Nahl:67). Dilanjutkan dengan menyatakan bahwa dalam khamar itu ada unsure dosa dan manfaatnya, namun unsur dosanya leih besar dari unsure manfaatnya (al-Baqarah:219). Kemudian dengan larangan mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk (Q.S.An-Nisa:43), selanjutnya Allah menyuruh agar menjauhi minuman khamar itu secara permanen (Q.S.al-Maidah:90)
Metode ini tidak bisa kita terapkan secara baik jika kita tidak melakukan monitoring. Selain memberikan arahan-arahan hendaknya pendidik juga mampu memonitor anak didik, meskipun tidak secara seharian penuh. Karena sifat pendidikan sendiri yaitu memanusiakan manusia maka perlu perlahan dan bertahap dalam mengubah kebiasaan kurang baik anak didik kita.
METODE CERAMAH
Metode ini merupakan metode yang sering digunakan dalam menyampaikan atau mengajak orang mengikuti ajaran yang telah ditentukan. Metode ceramah sering disandingkan dengan kata khutbah. Dalam al-Qur’an sendiri kata tersebut diulang sembilan kali. Bahkan ada yang berpendapat metode ceramah ini dekat dengan kata tablih,yaitu menyampaikan sesuatu ajaran. Pada hakikatnya kedua arti tersebut memiliki makna yang sama yakni menyampaikan suatu ajaran.
Pada masa lalu hingga sekarang metode ini masih sering digunakan, bahkan akan selalu kita jumpai dalam setiap pembelajaran. Akan tetapi bedanya terkadang metode ini di campur dengan metode lain. Karena kekurangan metode ini adalah jika sang penceramh tidak mampu mewakili atau menyampaikan ajaran yang semestinya haus disampaikan maka metode ini berarti kurang efektif. Apalagi tidak semua guru atau pendidik memiliki suara yang keras dan konsisten, sehingga jika menggunakan metode ceramah saja maka metode ini seperti hambar.
Didalam al-Qur’an kata tabligh lebih banyak digunakan daripada kata khutbah, al-Qur’an mengulang kata tabligh sebanyak 78 kali. Salah satunya adalah dalam surat Yaasin ayat 17, yang artinya berbunyi;
Dan kewajiban kami adalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”.
(Q.S. Yaasin:17)
Dalam ayat ini jelas bahwa metode ini telah digunakan sejak zaman dahulu, untuk menjelaskan tetang suatu ajaran atau perintah.
METODE TANYA JAWAB
Tanya jawab merupakan salah satu metode yang menggunakan basis anak didik menjadi pusat pembelajaran. Metode ini bisa dimodif sesuai dengan pelajaran yang akan disampaikan. Bisa anak didik yang bertanya dan guru yang menjawab atau bisa anak didik yang menjawab pertanyaan dari gurunya.
Didalam al-Qur’an hal ini juga digunakan oleh Allah agar manusia berfikir. Pertanyaan-pertanyaan itu mampu memancing stimulus yang ada. Adapun contoh yang paling jelas dari metode pendidikan Qur’an terdapat didalam surat Ar-Rahman. Disini Allah SWT mengingatkan kepada kita akan nikmat dan bukti kekuasaan-Nya, dimulai dari manusia dan kemampuannya dalam mendidik, hingga sampai kepada matahari, bulan, bintang, pepohonan, buah-buahan, langit dan bumi.
Pada setiap ayat atau beberapa ayat dengan kalimat bertanya itu, manusia berhadapan dengan indera, naluri, suara hati dan perasaan. Dia tidak akan dapat mengingkari apa yang di inderanya dan diterima oleh akal serta hatinya. Ayat itu adalah Ar-Rahman ayat 13 :
Maka nikmat rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?”
Pertanyaan itu diulang sebanyak 31 kali didalam surat ini. Setiap diulang, pertanyaan itu merangsang kesan yang berlainan sesuai dengan konteksnya dengan ayat sebelumnya.
METODE DISKUSI
Metode diskusi diperhatikan dalam al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah. Sama dengan metode diatas metode diskusi merupakan salah satu metode yang secara tersirat ada dalam al-Qur’an.
Didalam al-Qur’an kata diskusi sama dengan al-mujadallah itu diulang sebanyak 29 kali. Diantaranya adalah pada surat al-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
……( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‘Ïd ß`|¡ômr& 4ÇÊËÎÈ……… “Dan bantahlah dengan cara yang baik..”(Q.S.al-Nahl:125)
Dari ayat diatas Allah telah memberikan pengajaran bagi umat Islam agar membantah atau berargument dengan cara yang baik. Dan tidak lain itu bisa kita temui dalam rangkaian acara yang biasa disebut diskusi.
Diskusi juga merupakan metode yang langsung melibatkan anak didik untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran. Diskusi bisa berjalan dengan baik jika anak didik yang menduskisikan suatu materi itu benar-benar telah menguasai sebagian dari inti materi tersebut. Akan tetapi jika peserta diskusi yakni anak didik tidak paham akan hal tersebut maka bisa dipastikan diskusi tersebut tidak sesuai yang diharapkan dalam pembelajaran.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Secara bahasa atti metode berasal dari 2 perkataan, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos
Dalam menggunakan metode pembelajaran, tidak serta merta memandang tingkat kecanggihan dan keasyikan dalam belajar saja. Akan tetapi nilai-nilai keislaman dan psikologis juga harus diperhatikan. Karena yang kita didik bukan seekor hewan buas yang hanya memiliki nafsu dan tak memiliki akal, akan tetapi manusia yang memiliki nafsu dan akal.
Metode dapat diartikan sebagai cara untuk penyampaian materi pelajaran kepada anak didik Menurut mohammad Athiyah al-absary mendefisikannya sebagai jalan yang diikuti untuk memberi kefahaman kepada murid-murid dalam segala macam hal pelajaran dan mata pelajaran. Membutuhkan banyak metode pembelajaran agar anak didik bisa aktif dan mencapai tujuan pembelajaran seutuhnya.
berarti “jalan” atau “cara”. Dengan demikian metode dapat diartikan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu arti lain dari metode adalah suatu sarana untuk menemukan, menguji dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin. DAFTAR PUSTAKAArifin, M.Ed, Prof.H.M.1991.Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: Bumi Aksara
Barnadlib, Imam.1990.Filsafat Pendidikan, system dan Metode.Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Fuad Abd al-Baqy, Muhammad.1987.al-Mu’jam alMufrasdli Alfazhal Qur’an al-Karim.Solo: Dar al-Fikr:
Jalaluddin, Dr..1999.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Dr.Quraish Shihab.1982Membumikan al-Qur’an.Bandung: Mizan
Muhammad Quthb.1984.Sistem Pendidikan Islam.Bandung: PT.Al-Ma’arif
1
Muhammad Quthb,Sistem Pendidikan Islam,(Bandung:PT.Al-Ma’arif,1984) hal:180
2
Muhammad Quthb,OP.Cit,hal:183
3
Muhammad Fuad Abd al-Baqy,al-Mu’jam alMufrasdli Alfazhal Qur’an al-Karim,(Solo:Dar al-Fikr,1987) hal:286
4
Dr.Quraish Shihab,Membumikan al-Qur’an,(Bandung:Mizan,1982)hal:175